Diberdayakan oleh Blogger.

KAA Perlu Tindak Lanjut Konkret



BERAKHIRNYA Konferensi Asia Afrika (KAA) yang berlangsung 19-24 April lalu di Jakarta dan Bandung hendaknya menjadi momentum bagi Indonesia untuk menegaskan arah kebijakan politik luar negeri bila memproyeksikan diri sebagai negara berdikari di kawasan Asia-Afrika.
"Pidato Presiden Joko Widodo saat KAA sangat kritis. Sebagai seruan normatif (itu) bagus. Namun, kita belum tahu arah kebijakan Indonesia mau ke mana dalam mengambil peran," kata Direktur Eksekutif Populi Center Nico Harjanto dalam diskusi bertema Bisa apa setelah KAA? di Jakarta, kemarin.
Tiga dokumen hasil KAA, yakni Bandung Message, Penguatan Kemitraan Strategis Baru Asia Afrika (NAASP), dan Deklarasi Palestina, hendaknya diikuti tindak lanjut sebagai langkah konkret.
"Jangan sampai KAA seremonial belaka," lanjut Nico.
Agar diplomasi politik luar negeri Indonesia semakin dipercaya, stabilitas politik dalam negeri perlu dijaga.
Itu, kata Nico, bisa dimulai dengan memberesi urusan politik dalam negeri yang cukup menguras energi pemerintah.
Dalam diskusi itu, peneliti politik luar negeri Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Adriana Elisabeth menyoroti ketidaksetaraan ekonomi Asia-Afrika.
Walaupun hampir semua sudah merdeka, baru segelintir negara bisa mandiri secara ekonomi.
"Seperti diketahui, Indonesia butuh banyak investor untuk menggenjot pembangunan infrastruktur. Terbukti, bicara kemandirian itu tidak mudah," kata Adriana.
Oleh karena itu, pemerintah perlu menentukan strategi global dan menata kebijakan regional terlebih dahulu sebelum menentukan peran di kancah internasional.
"Dari sana kita bisa memandang diri kita dan menentukan posisi," tuturnya.
Jurnalis senior Budiarto Shambazy berpendapat isu yang digaungkan dalam KAA ialah isu daur ulang.
Meski begitu, kata dia, "Tetap menjadi pengingat bahwa semangat negara-negara Asia-Afrika sebagai middle power masih relevan untuk dunia saat ini."
Dia mencontohkan reformasi PBB masih diperlukan dan seruan kemerdekaan Palestina sebagai kewajiban moral atas hak kemerdekaan setiap bangsa.
Karnaval
Acara peringatan 60 tahun KAA berlanjut di Bandung, Jawa Barat, kemarin.
Pemerintah kota menggelar Karnaval Asia Afrika yang diikuti 20 kelompok budaya dari negara-negara Asia-Afrika serta 13 tim dari berbagai daerah di Tanah Air.
Parade di Jalan Asia Afrika sepanjang 1,5 kilometer yang berlangsung sejak pagi hingga sore kemarin itu dipadati ribuan warga.
Menteri Pariwisata Arief Yahya juga menetapkan Karnaval Asia Afrika sebagai agenda wisata nasional bertaraf internasional yang akan digelar setiap tahun di Bandung.
Karnaval Asia Afrika ditargetkan menjadi karnaval terbesar di Asia dan Afrika seperti karnaval di Rio de Janeiro, Brasil.
"Targetnya kunjungan 100 ribu wisatawan asing dan 2,5 juta wisatawan domestik di Bandung," kata Arief.
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil pun mengaku bangga dengan kepercayaan yang diberikan Menteri Pariwisata.
"Saya dan dukungan warga Kota Bandung siap menggelar event wisata nasional tahunan ini," ucapnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yakin peringatan KAA menjadi ajang promosi Kota Bandung, baik kebudayaan, pariwisata, maupun investasi.
(SB/BU/Sug/I-1)

About Unknown

Adds a short author bio after every single post on your blog. Also, It's mainly a matter of keeping lists of possible information, and then figuring out what is relevant to a particular editor's needs.

Tidak ada komentar:

Leave a Reply


Top