Diberdayakan oleh Blogger.

Indonesia Pasar Potensial Bisnis Kapal Pesiar



SEBUAH kapal pesiar pribadi (yacht) sering diidentikkan sebagai moda penyalur hobi bertualang di samudra luas bagi para miliuner di jagat ini. Layaknya mobil sport mewah atau jet pribadi, harga per unit yacht yang selangit biasanya berbanding lurus dengan kemewahan dan sentuhan personal dari pemiliknya.

Selama ini pemilik yacht identik dengan para selebritas Hollywood, hartawan dari belahan bumi Utara, pemilik pulau pribadi di kawasan eksotis di karibia atau para syeikh Timur Tengah. 

Namun, kini para produsen mencium pasar potensial mereka sejatinya ada di kawasan Asia. Bukan Tiongkok atau Singapura, potensi terbesar itu justru ada di Thailand dan Indonesia.
 
"Indonesia yang memiliki 17 ribu pulau lebih berpotensi lagi untuk mengembangkan potensi wisata di wilayahnya sebagai tujuan bersandar kapal pesiar," cetus Managing Director Pen Marine Oh Kean Sean,  seperti dikutip dalam laman CNBC.com, kemarin. 

Namun, sejauh ini pelaku usaha wisata dan pemerintah belum menyadari potensi pasar wisata kapal pesiar di wilayah itu. 

Hal itu tecermin dari penyelenggaraan Singapore Yacht Show, ajang pameran kapal-kapal pesiar elegan berharga puluhan miliar hingga ratusan miliar rupiah. 

"Potensi pasar yacht kebanyakan ada di negara yang letaknya tidak jauh dari Singapura. Dalam hal ini Singapura seperti etalase dan ruang pamer bagi kalangan yang menyukai kapal pesiar sebelum membelinya," jelas Direktur Pelaksana Singapore Yacht Show Andy Treadwell.

Ia menyebut warga kaya dan pelaku usaha wisata di Thailand dan Indonesia ialah sasaran utama penjualan yacht.

Kendati begitu, tantangan besar bagi para produsen ialah belum adanya budaya berpesiar dengan yacht bagi warga di kawasan ini.

Data yang dihimpun majalah Wealth-X menunjukkan hanya sekitar 4,3% dari keberadaan kapal pesiar dunia yang berbasis di kawasan Asia. Negara di kawasan Eropa, Amerika Latin, bahkan Afrika nyatanya masih mendominasi sebagai ‘rumah’ kapal-kapal dengan tinggi tiang rata-rata 20-30 meter itu.

"Thailand, Indonesia, Filipina, dan Malaysia malah cenderung hanya menjadi tempat bersandar kapal pesiar. Sekarang memang mulai muncul yacht clubserta paket wisata yang siap menampung kedatangan yacht," tutur Editor in Chief Wealth-X, Tara Loader Wilkinson.

Eksotisme destinasi wisata bahari Asia Tenggara, imbuhnya, bisa menjadi basis perkembangan industri wisata kapal pesiar. Area  ini memiliki paket komplet dengan jalur maritim yang terbilang ideal untuk dilalui kapal-kapal pesiar yang ingin menjelajah eksotika alam. Sebut saja Laut Andaman di sekitar Phuket, Thailand, pulau-pulau kecil di Myanmar atau Bali dan Raja Ampat di Indonesia.

Namun, aturan pemerintah di wilayah ini terkait izin tinggal, pajak, dan tarif parkir belum memikat  para penebar dolar dari wisata kapal pesiar tersebut. Misalnya di Thailand, kapten dan kru kapal pesiar hanya diperbolehkan tinggal maksimal 30 hari. Indonesia dianggap lebih parah karena menerapkan pajak kapal pesiar paling tinggi, yakni 45%. (Tesa Oktiana Surbakti/E-4)

About Unknown

Adds a short author bio after every single post on your blog. Also, It's mainly a matter of keeping lists of possible information, and then figuring out what is relevant to a particular editor's needs.

Tidak ada komentar:

Leave a Reply


Top